Ada Apa dengan Acara Penghargaan Musik Tahunan di Korea Selatan?

Ada Apa dengan Acara Penghargaan Musik Tahunan di Korea Selatan?

Dunia musik Korea dibanjiri dengan upacara penghargaan tahunan, seperti Golden Disc Awards, Korean Music Awards (KMA), Gaon Chart Music Awards, Mnet Asian Music Awards (MAMA), Melon Music Awards (MMA), Soribada Best K-Music Awards, Genie Music Awards dan The Fact Music Awards dan masih banyak lagi.

Beberapa di antaranya diluncurkan setelah tiga saluran TV nasional, KBS, MBC dan SBS menghilangkan penghargaan musik akhir tahun mereka karena adanya perselisihan yang terus-menerus tentang keadilan.

Alasan pertumbuhan jumlah ajang penghargaan seperti ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu menyelenggarakan upacara penghargaan musik sangat menguntungkan, demikian seperti dikutip The Korea Times.

Menurut orang dalam industri musik Korea, semua peserta tampil gratis di acara semacam itu dan akan mendapatkan imbalan piala dan “penghormatan”. Tidak seperti jenis acara lainnya, penyelenggara tidak harus memberi bayaran, selain biaya transportasi.

Setelah bintang tamu diumumkan, acara dapat dengan mudah menarik penggemar K-Pop, yang bahkan akan membayar sejumlah uang hanya untuk melakukan voting terhadap penyanyi favorit mereka.

Selain itu, dengan kehadiran bintang tamu, acara seperti ini juga bisa dengan mudah menggaet sponsor dengan memanfaatkan nama bintang tamu di media.

Akan tetapi, serbuan upacara penghargaan semacam itu telah menimbulkan banyak sekali masalah, di antaranya adalah.

Penghargaan musik kehilangan kredibilitas

Ternyata, terlalu banyak acara penghargaan yang menimbulkan masalah reputasi bagi mereka sendiri.

“Dengan munculnya beberapa dari apa yang saya sebut penghargaan yang tidak memenuhi syarat, orang-orang berpikir bahwa penghargaan musik di Korea tidak pantas mendapatkan prestise dan kredibilitas,” tutur Kim Jin Woo, kepala peneliti di Gaon Chart (salah satu platform streaming album paling tepercaya di Korea.

Kim Jin Woo juga disebut-sebut sebagai salah satu juri Gaon Chart Music Awards dan MAMA tahun ini.

“Banyak penghargaan akhir-akhir ini yang gagal memenangkan rasa hormat dari masyarakat umum. Beberapa di antaranya tidak mengungkapkan nama juri, atau malah mencerminkan pendapat subjektif juri secara berlebihan.”

“Sementara yang lain menyembunyikan bobot dari setiap kriteria evaluasi. Oleh karena itu, bahkan penghargaan yang menilai kandidat berdasarkan data obyektif bersama-sama dianggap kurang kredibilitas,” lanjutnya.

Kritikus Han Dong Yoon, seorang penulis untuk majalah musik IZM juga mengamini pendapat tersebut. Han Dong Yoon yang pernah menjadi juri KMA mengatakan, agar penghargaan membangun kredibilitas, penyelenggara harus memilih juri yang kredibel dengan kredensial yang meyakinkan.

“Selain itu, nama dan hasil pemungutan suara mereka harus diungkapkan secara transparan, sehingga tidak ada ruang untuk kontroversi,” tambahnya.

Selain itu, masalah besar lainnya dalam ajang penghargaan musik tahunan adalah giving for the sake of giving  atau “memberi demi memberi.”

“Panitia telah menambahkan begitu banyak kategori yang berlebihan untuk memberikan hadiah kepada sebanyak mungkin bintang (sebagai cara untuk membawa mereka ke acara) dan untuk menghindari keluhan para penggemar, tetapi ini telah mencoreng nama mereka,” kata Han Dong Yoon lagi.

“Banyak penyelenggara penghargaan hanya memanfaatkan idola K-Pop populer untuk keuntungan mereka sendiri. Sekarang seperti kewajiban bagi grup untuk mengambil bagian dalam penghargaan meskipun jadwal mereka padat, karena mereka dapat menghadapi kerugian di masa depan jika mereka melewatkan acara tersebut.”

Keadilan dan keragaman dibutuhkan

Meski demikian, para ahli memperkirakan jumlah acara seperti itu akan terus meningkat karena tidak ada alasan bagi penyelenggara untuk merelakan sumber pendapatan penting tersebut.

Akan tetapi para ahli mengatakan, untuk menjaga agar acara tetap menarik dan relevan, penyelenggara harus berbuat lebih banyak untuk mendapatkan kredibilitas dan prestise.

“Penyelenggara perlu merancang kriteria evaluasi yang lebih sesuai yang mempertimbangkan data kuantitatif dan kualitatif,” kata Kim Jin Woo.

“Mereka harus mengutamakan streaming digital dan data penjualan album, tetapi juga harus menyertakan data kualitatif untuk menilai artis sepenuhnya. Mereka juga harus menemukan bobot terbaik untuk setiap kriteria melalui trial and error dan mengungkapkannya di masa mendatang.”

Han Dong Yoon sendiri mengatakan, untuk saat ini, sebagian besar penghargaan mengundang artis K-Pop populer demi membuat heboh penggemar internasional.

Akibatnya, penyanyi Korea dari genre lain seperti indie dan rock dilecehkan meskipun mereka memiliki kehebatan musik.

“Jadi untuk keragaman dan kesenian yang lebih banyak, penyelenggara perlu mengakui musisi berbakat di segala bidang,” tutup Han Dong Yoon.

Sumber foto: via The Korea Times

Post a Comment